MCCB Kota Malang, Pengamatan Perilaku Burung Pun Dilakukan Menggunakan Binocular

Malang- Hutan kota Malabar Malang menjadi jujukan bagi peserta Mini Children’s Conference on Biodiversity (MCCB) Kota Malang untuk belajar dan mengetahui ragam keanekaragaman hayati di hutan mini tersebut, Sabtu (15/1). Terlihat gerombolan peserta MCCB Kota Malang sangat antusias mendengarkan informasi yang diberikan oleh masing-masing pendamping kelompok dari Tunas Hijau. MCCB Kota Malang yang diselenggarakan di SMP Negeri 1 Kota Malang tersebut merupakan kerjasama antara Tunas Hijau, Nadya Women Centre, Eco Mobile Coca-Cola dan SMP Negeri 1 Kota Malang.

Peserta dari beberapa SMP negeri dan swasta yang ada di Kota Malang dibagi menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok mewakili satu materi seputar keanekaragaman hayati yakni water monitoring (pemantauan kualitas air), biodiversity around us (keanekaragaman hayati sekitar kita), green map Malang city (pembuatan peta hijau Kota Malang) dan biodiversity threat (ancaman keanekaragaman hayati).

Pada kelompok water monitoring atau pemantauan kualitas air, peserta diajak untuk mengamati kadar oksigen, tingkat kekeruhan dan PH yang terkandung di dalam air tersebut. Berbekal alat uji kualitas air yang sederhana namun modern, peserta mampu menyimpulkan bahwa kualitas air selokan sebagian besar dipengaruhi oleh aktivitas rumah tangga yang ada di daerah tersebut. “Semakin sering, manusia membuang limbah rumah tangga ke selokan, maka semakin buruk kualitas air di selokan mereka,” ujar Akbar Wahyudono, aktivis Tunas Hijau.

Tidak jauh dari lokasi uji kualitas air, terlihat beberapa orang mengamati aktivitas burung yang ada di atas pohon. Sebagian lagi sibuk menulis kesimpulan tentang perilaku burung tersebut. Sesekali peserta menggunakan binocular atau teropong dua lensa untuk mengamati hewan yang berada di atas pohon tinggi ataupun hewan yang berada di jarak yang cukup jauh. Menurut Anggriyan, pemandu kelompok biodiversity around us, dengan mempelajari keanekaragaman hayati di sekitar, secara tidak langsung bisa mengetahui cara menyelamatkan keanekaragaman tersebut.

Sedangkan kelompok biodiversity threat atau ancaman keanekaragaman hayati, aktivis Tunas Hijau Satuman mengajak anggota kelompoknya terlebih dahulu menyaksikan film dan slide tentang keaneragaman hayati dan juga dampak buruk aktivitas manusia kepada keberadaan keanekaragaman hayati. “Banyak sekali aktivitas manusia yang mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, mulai penebangan pohon, kerusakan hutan dan juga pemanasan global,” terang Satuman.

Menurut Satuman, seringkali manusia tidak sadar bahwa tingginya tingkat konsumsi mereka terhadap sumber daya alam yang ada mengakibatkan kepunahan beberapa spesies yang ada di bumi. “Dengan alasan supaya jumlah tangkapannya meningkat, banyak nelayan yang menggunakan bom untuk menangkap ikan-ikan besar yang kebanyakan berada di laut dalam. Padahal bukan hanya ikan saja yang terkena dampaknya, melainkan juga karang dan tumbuhan laut juga terkena imbas bom tersebut,” imbuh Satuman.

Bukan hanya belajar tentang keanekaragaman hayati, beberapa peserta yang menjadi bagian kelompok green map atau peta hijau Kota Malang, lebih fokus mencari lokasi-lokasi yang bernuansa lingkungan. Misalnya hutan kota, sekolah ramah lingkungan, toko swalayan yang menjual produk ramah lingkungan dan juga lokasi pembibitan. Tidak semua wilayah Malang yang bernuansa lingkungan hidup yang dicantumkan di peta ini, namun setidaknya sebagian besar peserta jadi tahu bahwa di kota Malang juga terdapat lokasi-lokasi yang berbau lingkungan. (black)