Komunitas LH SMP 22 DGC Berikan Teladan Berperilaku Ramah Lingkungan

Surabaya- Membentuk tim lingkungan hidup yang aktif di sekolah tidak mudah, banyak tantangan dan cercaan yang akan dihadapi tim ini. Seperti yang dialami oleh tim lingkungan hidup SMP Negeri 22 Surabaya. DGC atau Dapuda Green Community terbentuk setelah workshop lingkungan hidup bersama Duta Besar Amerika Serikat Scot Marciel dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang diadakan Tunas Hijau dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. Tidak sembarang orang yang berada di tim ini, mental dan usaha yang gigihharus dimiliki oleh masing-masing anggota tim.

Kariadi, guru pembina tim lingkungan DGC, awalnya menemukan banyak sekali kesulitan, terutama tentang tantangan dari beberapa pihak yang mengajak siswa untuk menjadi teladan dalam berperilaku ramah lingkungan. Dengan pembentukan tim lingkungan ini diharapkan siswa yang tergabung dapat memberi contoh, mengingatkan atau bahkan menjadi pelopor untuk sekedar membuang sampah pada tempatnya. “Masih banyak dijumpai warga sekolah ini yang belum peduli terhadap sampah yang mereka hasilkan. Membuang sampah sembarangan adalah salah satu pemandangan yang umum terjadi. Perilaku inilah yang akan dirubah di kalangan warga sekolah,” ungkap Kariadi.

Setiap harinya tugas siswa anggota DGC tergolong berat. Mereka mencoba memungut sampah yangtidak pada tempatnya sampai memilahnya. Hasil yang didapat memang belum nampak, karena kegiatan ini baru dimulai beberapa minggu yang lalu setelah pelatihan Sekolahku Peduli Lingkungan di SMP Negeri 26 usai. Di pembinaan lingkungan hidup bersama Eco Mobile Coca-Cola, Senin (14/2), disampaikan beberapa taktik agar para siswa tidak kewalahan, diantaranya dengan 3 SA. DikatakanSatuman aktivis Tunas Hijau dan Eco Mobile Coca-Cola bahwa 3 SA adalah mereka harus memakSAdiri, lalu merasa terpakSA, setelah itu justru akan semakin terbiaSA.

Nisrina Evania Maheswari, salah seorang siswi anggota DGC sekolah ini berpendapat bahwasebenarnya tantangan terberat anggota  adalah merubah kebiasaan tiap personel anggota tim dan merubah kebiasaan warga sekolah. “Kami harus memastikan perilaku setiap anggota tim DGC berubah menjadi ramah lingkungan sebelum memaksa warga sekolah lainnya untuk berperilaku ramah lingkungan. Tidak pantas bila keteladanan berperilaku ramah lingkungan tidak dimulai tetapi malah memaksa warga lainnya berperilaku ramah lingkungan,” ungkat Nisrina. (naren)