Di SMP 3, Guru Dan Siswa Kompak Realisasikan Program Lingkungan

Surabaya- Dua orang guru wanita terlihat sedang membuat lubang resapan biopori di sekitar taman SMP Negeri 3. Mereka nampak tidak merasa jijik saat tangan harus mengambil tanah yang menempel dari mata bor biopori. Salah satu contoh yang patut ditiru oleh sekolah lainnya. Pembuatan lubang resapan biopori ini dilakukan bersama siswa untuk kegiatan lanjutan Sekolahku Peduli Lingkungan Hidup. TunasHijau bersama Eco Mobile Coca-Cola atau mobiledukasi lingkungan hidup keliling melakukan pembinaan lingkungan hidup ke sekolah ini, Rabu (2/2), paska workshop lingkungan hidup bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Duta Besar Amerika Serikat Scot Marciel.

Permasalahan lingkungan hidup di sekolah ini masih sama dengan beberapa sekolah lainnya yang pernah dikunjungi. Yaitu belum adanya komunikasi antara peserta yang mengikuti pelatihan lingkungan hidup dengan warga sekolah lainnya. Namun, ada yang patut ditiru, yaitukekompakan antara siswa dengan guru pengajar. Mereka saling membantu dalam menjalankan program yang telah dibuat. Tentunya ini adalah  salah satu jurus mujarab, karena dengan adanya kerjasama antara para guru dengan para siswa akan mempermudah siswa menjalankan programnya. Kepala sekolah SMP Negeri 3 juga nampak turun langsung ke lapangan untuk mendukung para siswa merealisasikan rencana kegiatannya.

Aktivis Tunas Hijau dan Eco MobileCoca-Cola Satuman nampak mengajak para siswa untuk langsung melakukan program dari sekolah yang belum mereka lakukan. Mereka diantaranya melakukan pengomposan sampah organik. Kegiatan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pengomposan melalui media komposter keranjang dan pembuatan lubang biopori yang memanfaatkan lubang menjadi media pengomposan. Tanpa merasa malu siswa dibantu para guru langsung mencari sampah organik dan sebagian membuat lubang resapan biopori di taman sekolah. Para siswa juga diajarkan cara mendaur ulang sampah kertas mereka. Hal ini dilakukan karena sebagian besar sampah di sekolah adalah sampah kertas.

Atika Mitzalina, koordinator tim lingkungan hidup SMP Negeri 3, menyatakan sempat ciut nyali karena melihat masih banyak temannya yang belum peduli lingkungan hidup di sekolahnya. Masih mudah ditemukan banyak sampah di berbagai sudut sekolah. Namun, baginya, hal inilah yang justru menjadi motivasi bagi siswi kelas 8 ini. “Dengan memiliki sekolah yang peduli terhadap lingkungan kita akan merasa nyaman berada di dalamnya. Dalam program ini yang diharapkan juga bukan hadiah yang didapat melainkan dapat merubah kebiasaan siswa yang ada dan merubah keadaan sekolah,” ucap Atika Miztalina. (naren)