Asyiknya Permainan Tradisional pada Pameran Prepcomm UN Habitat di Untag

SURABAYA Dita Putri Aulia, siswa SMP 17 Agustus 1945 Surabaya, mengaku sudah lama tidak bermain dan baru kali ini menemukan permainan congklak  atau dakon, permainan tradisional yang dihadirkan oleh Tunas Hijau bersama Eco Mobile PJB pada Pameran 3rd Prepcomm United Nations Habitat Conference di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Sabtu (23/7), yang juga bertepatan dengan  Hari Anak Nasional. 

Beberapa siswa SMP nampak bermain dakon

Beberapa siswa SMP nampak bermain dakon

Pengunjung pameran banyak yang tertarik dengan permainan tradisional yang dihadirkan. Selain Dita, ada juga Ni Putu Rika Maharani yang nampak asyik bermain dakon bersama Dita. Menurut Rika, permainan tradisional sebenarnya lebih menarik dan tidak kalah dengan permainan internet. “Permainan tradisional membutuhkan interaksi secara langsung dan hal itu tidak dapat dirasakan oleh pengguna game online,” ujar Rika.

Menurut Dita dan Rika, dibandingkan dengan dengan permainan tradisional, game online mempunyai banyak sisi negative. Diantaranya, lupa waktu untuk belajar, malas, kurang interaksi dengan teman sebaya dan sakit mata. Namun mereka mengaku belum bisa meninggalkan game online.

Seorang anak nampak sedang diajari orang tuanya cara memainkan egrang

Seorang anak nampak sedang diajari orang tuanya cara memainkan egrang

Sedangkan menurut Angela Clarisa Wijaya, salah seorang pengunjung pameran yang juga asyik bermain congklak, sebenarnya tergantung bagaimana individu yang bersangkutan menggunakan permainan game online tersebut. “Kalau individu tersebut bertanggung jawab dan bisa mengontrol diri dan waktu, maka game online dan permainan tradisional bisa dimainkan bergantian dan bisa menguntungkan,” ujar Angela Clarisa Wijaya.

Mereka mengaku sangat kangen dengan permainan tradisional ini karena terakhir bermain permainan congklak atau dakon ini adalah waktu SD, beberapa tahun lalu. Mereka berharap dengan bertepatan Hari Anak Nasional ini pemerintah aktif melestrikan permainan tradisional yang identik dengan ramah lingkungan seperti bakiak dan juga egrang. Orang tua juga harus berperan aktif. (grenda/ro)