Bank Sampah dan Pengomposan SMPN 21

SURABAYA – Bank sampah menjadi salah satu program lingkungan hidup yang masih berjalan di SMPN 21 Surabaya. “Saya selalu mengingatkan warga sekolah untuk membuang sampah pada tempatnya dan harus dipilah. Minimal organik dan non organik,” ucap Ngadiono, guru pembimbing lingkungan hidup SMPN 21 Surabaya saat pembinaan lingkungan hidup bersama Tunas Hijau Indonesia dan Eco Mobile PJB, Selasa (26/1). 

Kader lingkungan hidup SMPN 21 Surabaya diajak mengoptimalkan penggunaan tong pengomposan aerob

Kader lingkungan hidup SMPN 21 Surabaya diajak mengoptimalkan penggunaan tong pengomposan aerob

Dari sampah non organik yang dipilah, selanjutnya disetorkan ke bank sampah sekolah. “Setiap bulannya hasil dari bank sampah setidaknya sekitar 200.000 rupiah untuk penjualan sampahnya,” ujar Ngadiono. Hasil penjualan sampah non organik itu kemudian digunakan untuk kebutuhan para kader lingkungan hidup yang dibinanya untuk mendukung program lingkungan hidup yang telah direncanakan.

Pada pembinaan itu, Tunas Hijau juga mengajak sekitar 80 orang siswa sekolah di kawasan Jambangan Surabaya itu untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. “Kalian sudah bisa memisahkan sampah non organik untuk kemudian dijual melalui bank sampah. Ayo, sampah organiknya diolah menjadi kompos,” ujar Aktivis Tunas Hijau Arief Fermansyah.

Pengomposannya, dijelaskan Arief, cukup dengan memanfaatkan media pengomposan yang telah banyak di sekolah. “Ada keranjang pengomposan yang akrab dengan keranjang takakura ini. Ada juga tong aerob yang kebanyakan berwarna biru ini, “ terang Arief Fermansyah di sekitar tong pengomposan aerob bantuan dari Pemerintah Kota Surabaya itu.

Kader lingkungan hidup SMPN 21 Surabaya juga diajak mengenal krisis air bersih yang terus mengancam kehidupan di muka bumi

Kader lingkungan hidup SMPN 21 Surabaya juga diajak mengenal krisis air bersih yang terus mengancam kehidupan di muka bumi

“Sampah organik dedaunan dari penyapuan halaman sekolah oleh petugas kebersihan langsung  dimasukkan ke tong aerob ini. Padatkan. Jangan sampah kering. Biar proses penguraiannya atau pembusukannya berjalan bagus,” ujar Arief Fermansyah sambil memeragakan secara sederhana cara pengolahannya.