Biopori SD Al Azhar 11

Pembinaan lingkungan hidup bersama Eco Mobile PJB di SD Al Azhar 11 Surabaya

Pembinaan lingkungan hidup bersama Eco Mobile PJB di SD Al Azhar 11 Surabaya

SURABAYA – Upaya konservasi air dengan aksi nyata terus dilakukan Tunas Hijau bersama mobil edukasi lingkungan hidup keliling bantuan CSR PT Pembangkitan Jawa-Bali atau Eco Mobile PJB. Seperti yang dilakukan pada pembinaan lingkungan hidup di SD Al Azhar 11, Rabu (18/2). Sebanyak 100 siswa sekolah itu diajak membuat lubang resapan biopori di kebun milik sekolah mereka. 

Mar Atus, guru SD Al-Azhar 11, menjelaskan bahwa sekolah tidak mempunyai lubang resapan biopori sama sekali. Dalam penjelasannya, alasannya karena sekolah sendiri tidak mempunyai lahan sekolah yang cukup luas. Sehingga sekolah masih bingung untuk menentukan lokasi tempat yang akan dibuat lubang resapan biopori.

Hal tersebut tidak membuat sekolah tidak ada aksi nyata dengan membuat lubang resapan biopori. Rencana sekolah untuk membuat lubang resapan biopori akan dilakukan seusai ujian berakhir. Lokasinya di depan halaman sekolah bersama dengan siswa kelas 5 SD Al-Azhar 11. “Ya kita sudah berencana, Kak. Rencananya juga akan membuka paving sekolah,” jelas Atus.

Dalam pembinaan yang diikuti diikuti siswa kelas 3, 4 dan 5 itu, Tunas Hijau juga mengajak mereka untuk mengenali isu lingkungan sekitar. Diantaranta dengan menunjukkan berita yang terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Dalam keadaan tersebut yang disampaikan adalah mengenai terjadinya kekeringan air yang melanda beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur.

Ragil Ajeng Pratiwi dari Tunas Hijau menjelaskan bahwa kekeringan tersebut diakibatkan sumber air sudah banyak yang mengering. Sehingga satu desa terancam mengalami krisis air bersih. Salah satu akibatnya mengancam hasil panen tanaman pertanian mereka.

Siswa SD Al Azhar 11 praktek membuat lubang resapan biopori

Siswa SD Al Azhar 11 praktek membuat lubang resapan biopori

“Bagaimanapun kondisinya bumi hanya memiliki stok air bersih terbatas bila dibandingkan dengan volume air laut,namun kita bisa menambah kuantitas air yang ada dibumi,” jelas Ragil Ajeng Pratiwi. Ajeng mengingatkan bahwa sebelum kekeringan semakin parah, masyarakat harus melakukan aksi nyata berkelanjutan. Diantaranya dengan membuat lubang resapan biopori.

Dalam aksinya Ajeng mengajak mereka untuk membuat lubang resapan biopori  di sekolah. “Dengan membuat lubang resapan biopori di saluran air yang ada di kebun kalian maka air hujan atau air bekas menyirami tanaman kalian akan lebih banyak diserap oleh tanah,” tambah Aktivis Senior Tunas Hijau Bambang Soerjodari. (ajeng/ro)